Terdakwa Akui Memukul Istri dan Meminta Maaf Pada Korban

Kantorberita.co – JAKARTA. Sidang perkara Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) berjalan dengan lancar tanpa ada kendala walaupun korban tidak hadir dipersidangan dikarenakan pasca trauma akibat pemukulan yang dilakukan terdakwa.

Dihadapan Ketua Majelis Hakim I Wayan Gede, SH.,MH., yang didampingi dua hakim anggota Iwan Irawan dan Sontang Sinaga, ibu korban mengajukan bukti dipersidangan terkait vidio CCTV pemukulan korban. Hasil rekaman itu langsung diputar dan ditonton di ruang sidang.

Kemudian jeritan dan tangis korban pun terdengar dalam ruangan sidang membuat suasana mencekam dan ngeri pada saat itu.

Setelah itu, sidang dilanjutkan dengan pemeriksaan Terdakwa Edrick Tanaka oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), terdakwa mengatakan bahwa motif pemukulan yang dia lakukan terhadap korban istrinya tanggal 3 November 2023 dirumahnya di Perumahan Pantai Indah Kapuk (PIK), Penjaringan Jakarta Utara, lantaran berulang-ulang korban melontarkan kata-kata penghinaan terhadap keluarganya.

Emosi Terdakwa Edrick Tanaka meledak, itu yang membuat dirinya melakukan dugaan pemukulan terhadap istrinya bernama SA. Atas perbuatannya tersebut dirinya ditahan dan didakwa melanggar Undang Undang Kekerasan Dalam Rumah Keluarga (KDRT).

Menurut keterangan terdakwa Edrick Tanaka dipersidangan, awalnya terjadi kesal terhadap korban, pada tanggal 2 November 2023, saat terdakwa masih berada di Manado, orang tuanya scekcok dengan istri lantaran gaji baby sister sering dipotong korban. Lalu orang tua saya meminta uang gaji untuk baby sister dan karyawan lain, agar orang tua saya langsung beri kepada orangnya. Sebab ada informasinya gaji baby sister dan yang lainnya dipotong korban dari Rp 6 juta rupiah menjadi Rp 4 juta.

“Saya mendapat Informasi pemotongan gaji karyawan tersebut dari karyawan langsung,” kata Edrick Tanaka menjawab pertanyaan majelis darimana tahu bahwa gaji karyawannya dipotong.

Terdakwa mengaku dirinya memukul istrinya hanya untuk memberikan pelajaran. Namun pukulan itu menjadi malapetaka yang membuat korban terluka.

“Kalau kamu mau memberi pelajaran terhadap istri kenapa harus dimata? Itu kan sangat fatal.” terang Hakim Sontang Sinaga kepada terdakwa Tanaka yang diakuinya salah dan meminta maaf kepada korban.

Dalam perkara KDRT tersebut Jaksa Penuntut Umum (JPU) Dawin Sofian Gaja SH, dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Utara, menjerat terdakwa Edrick Tanaka Tan, dengan UU KDRT. Yang mana sanksi terhadap perbuatan KDRT diatur dalam Bab VIII tentang ketentuan pidananya dijelaskan secara rinci dalam pasal 44-53. KDRT dalam bentuk kekerasan fisik yang tergolong berat bisa dikenakan ancaman maksimal 10 tahun penjara dan 15 tahun penjara jika korban KDRT meninggal dunia.

Majelis hakim mengatakan sidang akan digelar kembali pada minggu depan, dalam agenda Jaksa Dawin Sofian Gaja SH, untuk menyiapkan Requisitor (tuntutannya).

Sementara diluar sidang, keluarga korban kepada media mengatakan. Terima kasih pada majelis hakim yang sudah memberi kesempatan untuk mendengar dan menonton vidio CCTV tersebut.

“Saya puas sebelum sidang dimulai Hakim mremperbolehkan dan menerima bukti-bukti rekaman CCTV dengan hasil suara yang cukup baik dapat ditonton di ruang sidang saat peristiwa KDRT terjadi,” terang ibu korban usai sidang.

“Semoga Hakim dan Jaksa dapat mempertimbangkan dan memberikan keadilan untuk anak saya,” tuturnya. Butet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *